Contoh Artikel Karya Siswa Kelas XII MIPA 3: Di Era Milenial Si Pandai Dan Si Terampil Memiliki Potensi Yang Sama


Di Era Milenial Si Pandai Dan Si Terampil Memiliki Potensi Yang Sama

Milenial. Siapa yang tak pernah mendengar kata milenial? Hampir seluruh lapisan masyarakat pernah mendengar kata “milenial”. Satu kata yang mampu menghipnotis  pendengarnya. Mengarahkan pada pemikiran akan kemodernan. Baik kemodernan teknologi, maupun cara berpikir. Kemodernan teknologi di era milenial sangat menunjang pola pikir masyarakat. Terutama generasi mudanya. Mereka dituntut berpikir kritis. Menyelaraskan dunia di sekitarnya. Sebab, di era milenial ini dunia dapat dijangkau dengan mudah. Sehingga muncul hukum kemodernan. Siapa yang tak berpikir modern, maka ia akan tereliminasi. 

Tapi nyatanya, di era milenial ini masih saja terdapat pola berpikir dan pandangan-pandangan kuno yang tak sesuai. Pandangan-pandangan tersebut justru akan menghambat perkembangan generasi muda. Salah satunya yang sering kita jumpai adalah penempatan kedudukan di dunia pendidikan. Di mana siswa yang berprestasi di bidang akadameik dipandang lebih bekwalitas ketimbang siswa yang berprestasi di bidang non akademik. Mereka menganggap siswa yang berprestasi di bidang akademik lebih berpotensi. 

Pandangan seperti inilah yang keliru selama ini. Baik siswa yang berprestasi di bidang akademik maupun non akademik mereka memiliki potensi yang sama. Mereka memiliki kesempatan yang sama di lingkungan sekolah maupun di masyarakat. Pertanyaannya adalah bagaimana cara mereka mendapatkan kedudukan yang sama? Agar tak ada lagi pengkastaan di antara mereka? Dalam hal ini siswa yang berprestasi di bidang akademik akan menggunakan kepandaiannya. Sedangkan siswa yang memiliki prestasi di bidang non akademik menggunakan keterampilannya. Maka dari itu tidak ada kata akademik dan non akademik, melainkan si pandai dan si terampil.
Lalu muncul pertanyaan lagi. Walaupun berbeda penyebutan, bukan kah masih tetap saja ada unsur pengkastaan? 

Si pandai dan si terampil sebenarnya mereka adalah sama,hanya saja dengan sebutan yang berbeda. Dalam hal ini si pandai biasanya mempunyai daya berpikir yang luar biasa. Kepandaian ini bukan di dapat dengan cuma- cuma, melainkan karena usaha. Mereka selalu melatih otaknya untuk mampu mengerjakan soal-soal teoritis. Selain itu, kepandaian juga bisa didapatkan karena faktor turunan atau genetik. Karena memiliki orang tua atau bahkan keluarga yang memang adalah orang-orang dengan IQ tinggi. Tak hanya itu, siwa-siswa dengan julukan si pandai atau memiliki prestasi di bidang akademik ini, juga sebagian besar hanya menguasai beberapa mata pelajaran. Contohnya mereka menguasai materi yang berbau hitung menghitung, tapi lemah dalam menghafal dan menganalisi. Begitu sebaliknya. Atinya tak semua mata pelajaran mereka kuasai. Hanya beberapa mata pelajaran yang mereka sukai. Bukan kah ini sama dengan si terampil? Mereka sama-sama menekuni hal-hal yang mereka sukai. Hanya saja berbeda bidang. Si pandai menyukai bidang akademik. Seperti mata pelajaran dan materi-materi yang teoritis. Sedangkan si termapil menyukai sesuatu di luar bidang akademik yang memang telah menjadi bakat dan minatnya. Dalam artian lain, si terampil adalah si pandai dalam bidangnya. 

Lalu bagaimana kesempatan kerja yang mereka miliki? Bagaimana potensi mereka di dunia kerja?
Mereka memiliki kesempatan yang sama. Dalam dunia kerja bukan hanya kecerdasan saja yang digunakan. Keterampilan juga menduduki kedudukan yang sama. Dalam dunia kerja tidak hanya kecerdasan berpikir saja. Melainkan, keterampilan-keterampilan yang lainnya juga. Diantaranya adalah keterampilan berkomunikasi dengan baik, keterampilan menguasai alat-alat elektronik, ataupun alat-alat sesuai pekerjaan yang ia dapatkan. Oleh karena itu antara si pandai dan si terampil tidak ada bedanya. Mereka menduduki posisi yang sama dan memiliki potensi yang sama.

Karena memiliki potensi yang sama, maka antara si pandai dan si terampil dapat berkolaborasi. Meraka akan dapat menciptakan suatu hasil yang lebih berkualitas dan memuaskan. Contoh sederhana adalah dalam pembuatan konten you tube. Dalam hal ini si pandai akan menentukan bagaimana konsep yang akan diangkat dalam video tersebut. Ia juga akan menentukan tempat dan waktu yang tepat untuk melakukan pengambilan video. Ia akan mempertimbangkan segala sesuatunya. Mempertimbangkan waktu, cuaca, dan lain sebagainya agar mendapatkan pencahayaan yang tepat. Selain itu, ia juga akan mempertimbangkan kwalitas kamera dan ala-alat yang digunakan agar mendapat kwalitas yang baik. Lalu si terampil akan mengambil alih dalm hal mengedit video. Karena sesuai bakat yang ia miliki yaitu mengedit dan mengoperasikan komputer. Ia akan bertangung jawab penuh dalam pengeditan video. Pengaturan volume  suara, pengaturan musik, dan lain sebagainya. Dengan kolaborasi yang baik ini, maka akan tercipta sebuah karya yang berkwalitas. Maka, karya yang diciptakan akan memuaskan hati para pemirsanya. 

Kesimpulannya, antara siswa yang berprestasi di bidang akademik dan bidang non akademik memiliki potensi yang sama. Mereka memiliki kesempatan kerja yang sama. Sekarang tidak ada kata siswa dengan prestasi di bidang akademik akan memiliki masa depan yang cerah. Sebaliknya, siswa yang hanya memiliki prestas di bidang non akademik memiliki masa depn yang suram. Sebagai manusia yang hidup di era milenial ini, kita harus bijak menyikapi perbedaan yang ada. Mereka berbeda bukan berarti mereka buruk. Jika melakuakan kolaborasi bagus, kenapa harus mengkastakan?

Ditulis oleh Lili Suryani

Posting Komentar

0 Komentar